Rabu, 23 September 2015

siar siarkan *efek rumah kaca*

Cerita ini bermula di saat saya mendapat tugas berdomisili di wonogiri, untuk misi  rahasia wkwkwk, tepatnya september 2014, saat itu kepala gue mau pecah sumpek tingkat paling atas, curhat kesemua teman tidak mempan, akhirnya suatu hari saya update galau status di bbm, dan temanku yg bernama abdur bertanya lho ngapain???? Galau lhu sambil pringas pringis dgn nada sindir, dia beri solusi saya dkenalkan dgn lagu yg katanya antimaenstream melancolia, gue gk paham tu orang ngomong apa sicb, akhirnya saya coba browsing efek rumah kaca, lagu yg pertama saya dengerin judul jatuh cinta itu biasa saja karena judulnya radak keren TOP karena gue pernah ngerasain gimana susahnya ditolak cewek, dan susahnya dikejar cewek yang gak gue suka, setelah gue dengerin band ini lumayan juga petikan gitarnya menusuk BGT. lagu kedua judul melancolia maklum kondisi galau, hhhh, gak lama kemudian dua album gue telen semua sampai gak tau mana album kamar gelap dan mana album efek rumah kaca mulai insomnia, hujan bulan desember, jalang, pria kesepian dll, kesimpulan gue lagu efek rumah kaca adalah band yang memberi pesan sosial pembelajaran hidup dgn memberi kebebasan pada pendengar bagaimana ia mengartikan dari setiap lyric lagu, sekarang sudah gak jaman lagi buku di beri BAB setiap halaman serta penutup kesimpulan dari akhir sebuah buku karena itu bisa menggurui pembaca dan pembaca tidak bebas bersuara apalagi soal sosial, sama kaya lagu efek rumah kaca pendengar bebas mengartikan lyricnya meskipun ada sebagian lagu yang khusus di tujukan pada seseorang. saya suka dengan efek rumah kaca karena saya suka aja dengan karya mereka, jadi jangan gak suka kalo belum dengar karya mereka, hhhh kecuali mereka yg suka sendu sendu cinta melulu. Sangat senang kalo bisa bertemu dgn satu selera maka dari itu add fbq ya jazilul irfan.

Pada tahun ini ERK mengeluarkan album terbaru bertajuk pasar bisa dipasarkan, singgle ketiga berjudul *putih* yaitu penggabungan dua lagu tiada dan ada, lagu tiada dpersembahkan pada adi amir zaenun dan lagu ada pada putra cholil mahmud angan senja.
Ni linknya downlodnya

https://m.soundcloud.com/efek_rumah_kaca/putih

Dan berikut wawancara langsung dgn cholil mahmud vocal efek rumah kaca yang saya ambil dari situs yang valid.


Tentu tidak mudah menjadi Cholil Mahmud. Selain padatnya jadwal panggung bersama Efek Rumah Kaca yang terus berderet rapat sejak rilisnya album pertama mereka sembilan tahun lalu hingga akhirnya membuat proyek baru Pandai Besi yang tetap sama larisnya, selama itu pula menjadi seseorang yang bertanggung jawab untuk lagu-lagu yang berhasil memberikan kesadaran, kepedulian, dan keberanian baru kepada generasi muda akan banyaknya hal-hal di sekitar yang terjadi dengan tidak semestinya dan bagaimana itu ternyata dapat dilawan dengan mosi tidak percaya, adalah amanat jika bukan kutukan yang jauh dari main-main. Walaupun mungkin memang tidak seberingas Ucok Homicide dan tanpa milisi sebesar Iwan Fals, tidak berlebihan menyebut jadi pahlawan bagi sebagian orang adalah niscaya seorang Cholil Mahmud. Namun kutukan berikutnya datang ketika segala hal yang mengantarkannya menjadi pahlawan telah dilakukan, sang pahlawan harus menerima kenyataan mendapati dirinya telah berubah menjadi kontradiksi berjalan bagi hal-hal tersebut. Apakah ini akhir cerita sang pahlawan? Apakah sebuah perubahan diri merupakan dosa terbesar bagi seorang yang dianggap pahlawan? Atau ini titik yang harus disyukuri karena menjadi pahlawan sesungguhnya memang kutukan karena tidak pernah mudah?
Dalam konteks sebagai musisi, Cholil melihat bahwa hal-hal seperti itu tidaklah penting dan justru dapat menghalangi seseorang untuk menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Kepahlawanan adalah romatisme dan romantisme selalu membutakan. Kita semua akan terus ingat perasaan itu, tersambar petir di siang bolong ketika melihat Iwan Fals lantang mengajak dari dalam televisi, bukan untuk robohkan setan yang berdiri mengangkang melainkan untuk minum kopi yang telah membeli kepahlawanannya. Jika kita masih buta oleh romantisme-romantisme abstrak tersebut, entah berapa waktu dalam hidup kita yang terbuang untuk mengumpat, menangisi dan membebani hati dengan kekecewaan bahkan kebencian yang mengendap. Dan saat bisa terbebas dari kebutaan itu, masalah selesai dengan kita yang tersenyum sambil terus berjalan dan berujar santai, “lo bukan pahlawan gue lagi.”

Wawancara ini dilakukan satu minggu sebelum Cholil berangkat melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Tidak diberikan jawaban pasti mengenai nasib album ketiga Efek Rumah Kaca yang tidak kunjung rampung. Satu-satunya yang dapat diantipasi adalah kepastian bahwa bagi mereka yang memutar “Mosi Tidak Percaya” sehari penuh pada 9 April lalu, “Di Udara” sebagai pengiring membaca kultwit bertagar #menolaklupa, “Belanja Terus Sampai Mati” saat melintasi mall dengan antrian mobil yang menjalar, atau “Menjadi Indonesia” sebagai lagu pertama memulai hari dan pada taraf tertentu menasbihkan Cholil Mahmud sebagai salah satu pahlawan, mungkin semuanya harus berhenti di album ketiga ini. Tidak lagi ada baris-baris nyanyian tentang perlawanan, dan entah perubahan-perubahan lain yang mungkin dibawa Cholil sepulangnya nanti. Mengutip Cholil, perubahan itu wajar dan apabila nanti perubahan itu benar-benar terjadi, persiapkan diri untuk terhindar dari jerat-jerat romantisme tadi. Mungkin itu waktu untuk Cholil atau ERK untuk tetap menjadi pahlawan walaupun bagi orang-orang lain. Jika tidak pun, setidaknya ia sedang menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, yang merupakan hal terpenting dari segala hiruk pikuk ini. Jika ternyata tetap tidak begitu, apa mungkin memang kita yang take it seriously.